Rabu, 29 Januari 2014

Menuju Madinah

Keyla termenung di tempat duduknya. Sudah hampir 6 jam lamanya sejak pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Sebagai pramugari dari sebuah maskapai milik negara kaya raya penghasil minyak, sesaat lagi ia akan menjalankan salah satu tugasnya membagikan hidangan bagi para penumpang. Penerbangan 9 jam dari Jakarta menuju Madinah memang terasa membosankan bagi dirinya, tapi tidak bagi kebanyakan penumpang. Keyla bisa melihat rasa senang yang terpancar dari mata-mata mereka saat pertama kali mereka memasuki pesawat. Menggunakan seragam dari berbagai biro perjalanan, mereka tampak begitu antusias. Bagaimana tidak senang, mereka semua adalah para penerima undangan dari Tuhan. Mereka semua adalah calon penerima jamuan dariNYA. Mereka semua adalah jamaah yang akan melakukan umrah. Tidak semua orang beruntung seperti mereka. Ada yang begitu ingin umrah, tapi tidak memiliki dana. Ada yang begitu melimpah dana, tapi tidak ingin umrah. Ada yang ada dana dan ada keinginan, tapi tidak ada waktu. Dan seharusnya aku jauh lebih bersyukur dari mereka semua, karena sebagai pramugari aku bisa sering melakukan ibadah yang begitu menjadi impian dari banyak orang, pikir Keyla.
 
Saat ini kebanyakan penumpang sedang tidur. Lampu kabin memang sengaja dimatikan, begitu pula jendela diharuskan ditutup. Sehingga membuat para penumpang mudah untuk terlelap. Walaupun memang ada saja satu atau dua penumpang yang tidak bisa tidur dan datang padanya untuk meminta sekedar air minum atau roti untuk cemilan. Keyla melirik jam tangan mungil dipergelangannya, masih ada waktu 1 jam sebelum makanan dibagikan. Berarti ada waktu sebentar bagi dirinya untuk berpikir mengenai masalah yang dihadapinya. Ia memang warga Negara Indonesia yang bekerja di maskapai asing, tidak hanya dirinya, tapi ada banyak gadis Indonesia lain yang juga bekerja di tempatnya bekerja. Banyaknya penumpang dari Indonesia, menjadikan perusahaan mengambil kebijakan merekrut beberapa air crew WNI. Tidak ada masalah dengan tempatnya bekerja, bahkan ia juga diperbolehkan untuk menikah. Umur juga bukan batasan di maskapai ini.
 
Yang jadi masalah adalah, setelah beberapa tahun menikah, anak yang ditunggu tidak juga hadir. Sudah beragam usaha dicoba, pengobatan secara kedokteran sampai cara tradisional. Tapi semua gagal. Sampai ada tawaran dari suaminya untuk mengangkat seorang anak sebagai anak angkat. Sebenarnya bukan tawaran biasa, karena kebetulan ada bayi dari saudara jauhnya yang sedang butuh pertolongan. Bayi tersebut tidak memiliki orang tua karena bapaknya entah kemana sementara ibunya meninggal saat melahirkan. Walaupun secara manusia Keyla kasihan pada bayi tersebut dan mau ikut membantu secara materi untuk perawatannya, tapi Keyla tidak mau untuk mengadopsinya. Karena menurutnya, anak haruslah lahir dari rahimnya sendiri. Bukan dari rahim orang lain. Ia lebih baik kembali mencari cara lain untuk dapat melahirkan anaknya sendiri.
 
Pikirannya sedang terus berkutat di masalah tersebut sampai tiba-tiba seorang ibu hadir dihadapannya dan berkata, “Mbak, bisa minta minum?”
“Mau air apa bu?”
“Kalau bisa teh hangat aja”
“Sebentar ya bu..” tak butuh waktu lama bagi Keyla untuk memberikan secangkir teh pada ibu tersebut. Wanita paruh baya itu kemudian mereguknya dengan  perlahan.
“Mau umrah bu?” Tanya Keyla basa-basi. Karena sebenarnya ia memang sudah tahu jawabannya. Dari seragam yang dipakai, dari name tag yang dikalungkan, jelas-jelas wanita itu memang jamaah umrah. Bahkan dengan membaca name tag-nya, Keyla bisa tahu nama biro perjalanan yang digunakan serta nama ibu itu.
“Iya… Insya Allah…” jawab ibu itu. Matanya kemudian tampak mulai berkaca-kaca. Keyla tersenyum memandangnya, teringat wajah ibunya yang dulu juga begitu terharu saat pertama kali ia ajak umrah.
“Dengan suami?”
“Iya. Alhamdulillah dengan suami. Sampai saat ini saya masih belum percaya kalau saya akhirnya bisa berangkat umrah. 3 bulan lalu saya belum ada uang sama sekali. Tapi saya begitu ingin umrah, walau saat itu saya belum tahu biaya dari mana. Gaji suami pas-pasan, cukup untuk kebutuhan hidup. Tabungan hanya sedikit sekali. Sementara saya ada penghasilan sampingan dari menulis…” cerita ibu itu panjang lebar.
“Ibu penulis?”
“Iya… saya penulis cerita pendek. Tentu saja bukan penulis novel terkenal seperti Andrea Hirata atau JK Rowling. Bukan, hanya penulis cerita anak-anak saja..”
“Owh, hebat ya bu..”
“Tapi itu tentu saja kurang untuk umrah. Walau demikian saya selalu menabung setiap rupiah yang saya dapat dari menulis tersebut. Tidak seberapa memang, bahkan jika sedang tidak ada pemasukan, saya tabung uang belanja dari gaji suami saya sebanyak 5000 rupiah per hari untuk umrah. Mbak bisa bayangkan, jika dihitung secara matematika dan logika, dengan jumlah uang yang saya tabung, mungkin sepuluh tahun lagi saya baru bisa berangkat umrah…”
Keyla tersenyum mendengarnya, tanpa bantuan kalkulator pun ia setuju dengan ucapan ibu tersebut.
 
“Tapi matematika Allah selalu luar biasa. 1+1 bukanlah 2, bisa lebih dari itu. Saya tak hanya menabung secara materi tapi juga doa dan harapan. Doa-doa saya dan harapan-harapan saya mengisi setiap langkah saya menulis, begitu pula dengan suami. Diri saya pribadi, semakin bersemangat untuk menulis, dalam hitungan hari saya bisa menghasilkan banyak cerita pendek untuk saya kirim ke berbagai Koran dan majalah. Malah saya berhasil membuat novel anak-anak. Saya kirimkan naskah novel tersebut ke berbagai penerbit…”
“Lantas akhirnya novel ibu laku banyak?”
Ibu itu tertawa ringan dan menjawab, “Belum, terbit saja belum. Belum ada penerbit yang mau menerbitkan novel saya tersebut..”
“Lho.. lantas darimana ibu mendapat uang untuk umrah?”
“Kantor suami saya mulai tahun ini memberikan hadiah umrah bagi para karyawannya. Setiap tahun akan ada 4 orang karyawan beserta pasangannya yang diberi uang untuk umrah. Dan Alhamdulillah suami saya beruntung mendapat giliran umrah untuk tahun pertama ini..”
“Waah… kebetulan sekali!!”
“Kebetulan? Gak ada yang kebetulan di dunia ini mbak. Air zam-zam itu muncul dari tempat yang tidak diduga. Siti Hajar mencari air atau orang yang bisa menolongnya dengan cara menaiki bukit shofa dan bukit marwah. Ikhtiarnya adalah dengan menaiki kedua bukit tersebut…”
 
Keyla sedikit bingung mendengarnya, mengapa dari hadiah umrah jadi pindah ke air zam-zam?
“Lantas dari mana datangnya air yang dicari oleh Siti Hajar? Apakah dari bukit shofa? Atau dari bukit Marwah?” tanya ibu itu kemudian
“Mmm…. Dari bawah kaki nabi Ismail…”
Senyum ibu itu mengembang mendengar jawaban Keyla, “Iya! Kalau memang semua factor kebetulan belaka, buat apa Siti hajar lari bulak balik antara Shofa dan Marwah? Toh air zam zam akan keluar dengan sendirinya dari bawah kaki Ismail. Toh airnya bukan dari kedua bukit tersebut. Toh tetap tidak ada orang yang terlihat dari kedua bukit tersebut. Mending ia duduk saja berdiam diri…”
Kali ini dahi Keyla benar-benar berkerut mendengarnya, “Jadi maksud ibu, Tuhan memberi air tersebut karena telah melihat bagaimana Siti Hajar berusaha mencari?”
“Betul mbak! Menurut saya begitu! Tuhan sudah melihat bagaimana doa dan ihktiar Siti Hajar dalam mencari air, karena itulah air zam-zam pun keluar. Walaupun tampaknya bukan dari usaha yang dilakukan. Tapi sebenarnya itulah jawaban Tuhan atas doa-doa Siti Hajar. Begitu pula dengan rejeki umrah yang saya terima. Walaupun bukan dari hasil menulis, tapi mungkin karena Tuhan sudah melihat bagaimana saya menabung setiap rupiah yang kami miliki, sudah melihat bagaimana kami berusaha bekerja lebih keras, sudah mendengar segala doa-doa kami, maka DIA akhirnya menjawab doa kami tersebut melalui kantor suami saya…”
Keyla tercenung mendengar jawaban ibu itu, “jadi, apakah berarti sebenarnya Allah menjawab semua doa-doa kita?”
“Iya.. Allah selalu menjawab semua doa-doa kita. Saat kita bilang kebetulan, maka sebenarnya itu lah jawaban Tuhan atas doa-doa kita, atas ikhtiar kita. Jawaban atas doa kita bisa datang dari mana saja, jangan terpaku pada tempat kita ikhtiar. Tapi bisa dari mana saja, bahkan dari tempat yang kita paling anggap tidak mungkin sekalipun. Buka mata hati kita lebar-lebar untuk melihatnya…”
 
Untuk sejenak tak ada yang diucapkan antara mereka. Setelah kembali mereguk, ibu itu kemudian menyorongkan cangkir kosong padanya, “makasih teh hangatnya ya mbak.. saya sekarang mau duduk lagi..”
 
Keyla tersenyum pada ibu itu, dan masih terus tersenyum bahkan saat ibu itu sudah membalikkan badan menuju kursinya. Keyla memang tersenyum pada dirinya sendiri dan juga pada pikirannya yang terus berkecamuk.
Apakah bayi itu jawaban atas doa-doanya?
Apakah bayi itu jawaban atas ikhtiarnya?
Apakah bayi itu bagai air zam zam yang munculnya bukan dari shofa maupun marwah?
Apakah selama ini ia begitu terpaku pada shofa dan marwah sehingga melupakan pada air zam-zam yang sudah keluar dari bawah kaki nabi Ismail? Terpaku pada usaha melahirkan anak sehingga melupakan bayi yang sudah menanti dan butuh pertolongannya?
Keyla memejamkan mata.
Dua jam lagi pesawat mendarat di Madinah. Sungguh ia ingin kembali umrah saat tiba nanti dan berdoa agar hatinya bisa lebih bersih dalam melihat jawaban-jawaban Tuhan terhadap doa-doanya.
 
***
 
Tamat
Sumber Gambar:
Gambar pesawat : http://www.digital-photography-school.com/wp-content/uploads/2008/12/plane-window-photography-1.jpg
Gambar Kabah: property of ruli amirullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar